rakyat bekasi Ngerti'in Bekasi

Menabuh Gendang Prahara PDI Perjuangan, Siapa Memainkan dan Dimainkan?

Jumat, 26 Juni 2020 | 11:48 WIB

Oleh : Yusuf Blegur

 

PDI Perjuangan kembali diterpa badai prahara. Setelah menjadi bulan-bulanan karena dianggap sebagai sosok di balik layar dari lahirnya kebijakan negara yang tidak populis dan cenderung menyengsarakan rakyat.

Sebagai partai pemenang pemilu, PDI Perjuangan kini dihujat sebagai partai komunis. Setidaknya disinyalir partai yang didalamnya berkerumun orang-orang yang dicap PKI.

Situasi tersebut kurang lebih sama ketika Bung Karno di tengah masa pemerintahannya bersama PNI-yang menjadi salah-satu cikal-bakal PDI Perjuangan, dituding PKI dan akhirnya menggulingkan kekuasaannya.

Seperti menjadi siklus sejarah, ia terus berulang dalam alur cerita dan skenario yang "up to date".

[Panca Sila: Diperas, Dikupas dan Terhempas, Ujung-Ujungnya Dilepas]

Belum lama, baru saja terjadi peristiwa pembakaran bendera berlogo banteng meski saat itu partainya berkuasa. Sejauh ini, Megawati Soekarno Putri selaku pimpinan partai dan juga politisi yang memiliki pengaruh dalam roda pemerintahan, tidak menunjukkan sikap reaksioner dan seperti biasa mengedepankan aturan main konstitusi dengan mengedepankan pendekatan jalur hukum.

Megawati, orang yang selalu berhati-hati dan terbiasa memimpin di bawah tekanan. meski demikian, ia selalu berusaha belajar dari sejarah, mencari jalan tengah. Seperti Bapaknya, Megawati bertahan pada ideologi dan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa di atas segalanya.

Terdzalimi jauh sebelumnya dan tertindas pada peristiwa 27 Juli 1996, hingga menyebabkan kematian sejumlah kadernya saat berhadapan dengan penguasa orde baru yang otoriter dan represif. PDI Perjuangan tetap tenang dan tidak terprovokasi.

Itulah hebatnya PDI Perjuangan dan tidak semua partai mampu melakukannya. Mungkin dari situlah, Megawati bisa bercermin dan mengambil langkah strategis dalam mengelola PDI Perjuangan, sekaligus memperlihatkan matangnya perspektif kenegaraannya dalam situasi yang boleh dibilang lumayan genting dan krusial ini.

Terutama di tengah mosi ketidakpercayaan dan hujatan kebencian yang terorganisir yang dialamatkan kepada pemerintahan sekarang. Terlebih dengan opini bola salju yang seakan mentasbihkan bahwa PDI Perjuangan anti Islam.

Pengalaman penderitaan panjang yang menjadikannya semakin intim dengan kesabaran itu, memang semakin menegaskan bentuk karakter dan kebesaran partainya. Meskipun dalam perjalanan partai, selalu saja ada orang dalam yang menggerus partainya dengan menjadi pengkhianat partai dan berusaha, menghancurkannya dari dalam.

PDI Perjuangan memang rentan dibonsai oleh orang luar yang berada di dalam. Infiltrasi memang dianggap efisien dan efektif oleh kepentingan terselubung, setelah intervensi dari luar baik mobilisasi isu dan tekanan politik selama ini belum berhasil mengebiri PDI Perjuangan.

Kekhawatiran terhadap tumbuhkembangnya partai itu, utamanya lebih karena faktor ideologis, bukan suap perolehan suara kursi yang besar. Karena itulah PDI Perjuangan bukan hanya sekedar menjadi aset nasional, lebih dari itu menjadi irisan internasional yang tidak terpisah dari kepentingan global.

Tentu saja, bukan semata karena sebuah partai, ini bicara tentang Indonesia dimana kebijakan dan orientasi negara sangat dipengaruhi oleh partai politik, terutama partai yang tengah berkuasa.

[Panca Sila: Sudah Skripsi, Belum Ujian Praktikum]

Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Megawati dengan PDI Perjuangan dalam ikut menyelenggarakan kekuasaan, tidak terlalu jauh berbeda dengan era kepemimpinan sebelum PDI Perjuangan menjadi partai pemenang pemilu. Saat itu, kepemimpinan nasional dan partai yang berkuasa juga satu paket.

Namun perbedaannya adalah; PDI Perjuangan mengusung ideologi yang notabene secara substantif tidak menjadi bagian dari sub-ordinat ideologi kontemporer belahan dunia lainnya.

Katakanlah ideologi kapitalisme dan komunisme yang hingga kekinian menghegemoni dan mendominasi kehidupan global, termasuk Indonesia. Misalnya kekuatan dan kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya, juga Tiongkok di sisi lain yang saling berlomba mencengkeram Indonesia. Entah melalui skenario investasi, ataupun penguasaan ekonomi dan politik lainnya yang menguasai hajat hidup orang banyak.

PDI Perjuangan seperti halnya negara bangsa Indonesia, harusnya "inhern" dan memiliki satu kesatuan memperjuangkan Panca Sila dalam mencapai tujuan nasional.

Sayangnya, justru praktek kehidupan bernegara tercerabut dari akarnya nilai-nilai Panca Sila. Mungkin begitu hebatnya pengaruh ideologi kapitalisme global yang gayanya juga seiring sejalan dengan apa yang dilakukan oleh paham liberal dan komunis.

Kemudian kondisi tersebut, semakin diperparah oleh komparador-komparador kepentingan asing. Tidak sedikit orang Indonesia yang mengkhianati nasionalisme bangsanya sendiri.

Konstitusi diperjual-belikan dengan modus merancang undang-undang berdasarkan pesanan korporat multi nasional. Semakin banyak orang yang berlomba-lomba menjual dirinya, menjual masa depan anak-cucunya hingga menjual negaranya sendiri.

Pembiaraan perilaku yang tidak sesuai dan mengangkangi nilai-nilai Panca Sila, terkesan menjadi strategi Panca Sila hingga tidak boleh digugat dan harus tetap ada. Soal bagaimana prakteknya? biarlah orientasi menuhankan materi dan kebendaan lainnya menjadi tarikan nafas bagi manusia Indonesia. Panca Sila tak akan diganti, ia tetap ada, tapi dibiarkan lepas.

Demikian tantangan terbesar dan begitu kompleks bagi negara Indonesia, khususnya PDI Perjuangan sebagai "The Ruling Party". Mampukah Megawati Soekarno Putri melewati ujian yang merupakan jalan terjal bagi kebangsaan Indonesia?. Ataukah, ia sekali lagi membunuh Bapaknya sendiri?.


Kategori : Opini,
Topik : Bekasi, Politik,
Editor : Sulistyo Adhi

© 2018 Rakyatbekasi.com. PT Jurnal Rakyat Media Grup. | Ketentuan Umum - Tentang Kami - Pedoman Media Siber