rakyat bekasi Ngerti'in Bekasi

Runtuhnya Religiusitas Dalam Panggung Demokrasi, Refleksikan Hari Kebangkitan Nasional

Jumat, 22 Mei 2020 | 07:14 WIB

Oleh: Yusuf Blegur


Peringatan Hari Kebangkitan Nasional saat ini, terasa menjadi semakin hambar dan seperti mencapai anti klimaks. Semangat dan nilai yang terkandung di dalamnya, sangat bertolak belakang dari apa yang dialami oleh bangsa Indonesia sekarang ini. Apa yang kemudian menjadi tujuan dari semangat dan cita-cita kebangsaan itu, tak pernah terwujud hingga hari ini.

Pemikiran, suasana batin dan pergerakan pemimpin bersama rakyat pada zaman itu, telah berhasil menjadi tonggak sejarah yang mendorong lahirnya suatu negara yang merdeka. Sebuah keinginan dan tekad kuat dari kehidupan rakyat yang ingin membebaskan diri dari belenggu kebodohan, feodalisme dan kolonialisme.

Masa pergerakan kemerdekaan itulah kemudian menjadi masa yang tumbuh subur dan berkembang kesadaran nasional untuk mendirikan suatu negara bangsa. Dipelopori oleh Budi Utomo pada tahun 1908, pelbagai upaya dilakukan utamanya oleh kaum muda terdidik dan pemimpin-pemimpin sosial dan agama untuk bergerak melawan dan membebaskan diri dari sistem penjajahan.

Setelah itu arus besar penolakan terhadap feodalisme, kolonialisme dan imperialisme tak terbendung dengan ditandai oleh lahirnya kelompok diskusi, perserikatan dagang, organisasi sosial dan kepemudaan hingga partai politik yang menyuarakan cita-cita kemerdekaan dan ide mendirikan negara bangsa.

Meskipun pada awalnya gerakan perlawanan terhadap penjajahan masih bersifat parsial dan sporadis, seiring waktu kesadaran dan semangat kebangsaan itu menjadi perlawanan rakyat yang revolusioner dalam mewujudkan negara berdaulat yang anti penindasan dan penjajahan. Puncaknya adalah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, sebuah momentum menuju cita-cita nasional untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang adil dan Makmur.

Sayangnya, pengalaman sejarah itu tidak dapat menjadi modal dan daya dukung yang kuat untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan nasional. Indonesia menjadi negara yang sama, baik saat sebelum merdeka maupun pada saat hidup di alam kemerdekaan. Masih dibawah pengaruh dan kendali kolonialisme dan imperialisme modern.

Pasca Kemerdekaan, Indonesia memang tidak serta-merta menjadi negara merdeka yang berdaulat dan mandiri. Selain berlimpahnya kekayaan alam dan letak yang strategis dan politis sehingga kuatnya kepentingan kolonialisme dan imperialisme dunia ingin tetap bercokol di Indonesia.

Perbedaan pendapat dan pemikiran tentang konsep dan dasar negara pada akhirnya menjadi laten dan memicu konflik yang berkepanjangan. Dalam usia muda kemerdekaannya, Republik Indonesia masih menghadapi agresi militer Belanda dan sekutu, terus diguncang berbagai pemberontakan dalam negeri, dan lemahnya negara yang ditandai dengan gonda-ganti sistem pemerintahan.

Kini, 75 Tahun usai kemerdekaan, kita masih terjebak dengan masalah negara dan agama. Meskipun sudah ada konsensus kebangsaan yang dimanifestasikan dalam Piagam Jakarta dan komitmen memelihara kemajemukan dalam bingkai NKRI-Panca Sila-UUD 1945. Internalisasi kebangsaan kita tidak pernah berjalan diatas kesadaran yang tulus dan hakiki. Perjalanan kehidupan kenegaraan kita, selalu diwarnai pertikaian dan konflik sesama anak bangsa. Idiologi dan agama selalu ditempatkan secara berhadap-hadapan. Pertentangan dan polemik negara sekuler dan negara agama secara substansi tak pernah usai.

Kondisi semakin berat dan terpuruk akibat kesalahan dalam tata-kelola negara. Disamping sulitnya menemukan pemimpin yang ideal mewakili suara dan kepentingan rakyat yang sebenarnya, proses kelahiran kepemimpinan nasional juga selalu dan identik dengan perebutan kekuasaan yang berdarah dan atau konspiratif dari kepentingan global. Rakyat dibiarkan larut dalam kehidupan liberal yang mengejar materi dan meninggalkan nilai-nilai.

Begitulah Indonesia menjadi. Di dalamnya begitu rapuh, sementara intervensi dari luar mencengkeram sangat masif. Kini kita sudah terbiasa disuguhi pertarungan politik yang bersumber dari polarisasi antara idiologi dan agama. Seperti seiring tapi tak sejalan, sejalan tapi tak beriringan.

Seperti api dalam sekam, perbedaan itu menyimpan potensi perpecahan dan konflik serta dendam sejarah yang mendalam. Kondisi obyektif itu terus dipelihara dan dimanfaatkan oleh kepentingan asing yang ingin menguasai Indonesia dalam berbagai sektor.

Dari kedua sisi itulah, baik faktor dalam negeri maupun luar negeri, yang pada akhirnya membuat Indonesia terus terpuruk hingga saat ini. Indonesia sekarang tak ubahnya seperti negara boneka, yang tidak berdaulat, tidak berdaya dan dalam pengaruh kekuatan asing.

Kegagalan Membangun Karakter Nasional Bangsa

Sebagai sebuah negara dengan platform nasionalis sekuler, Indonesia sangat mengandalkan Panca Sila dan UUD 1945 dalam bingkai NKRI untuk merawat eksistensi negara dan kemajemukan masyarakatnya. Artinya sebagai sebuah negara bangsa yang mayoritas penduduknya umat Islam bahkan terbesar di dunia, namun Indonesia tidak didesain sebagai negara yang berazaskan negara Islam.

Demikian karena kondisi itu, selain menjadi potensi dan kekuatan, ada celah yang bisa menjadi kelemahan yang mendasar, bahkan pada saat konsensus kebangsaan dibangun saat proklamasi Kemerdekaan baru saja dihelat. Berdasarkan tinjauan sejarah terkait peran dan kontribusi instrumen agama, idiologi dan entitas pergerakan lainnya yang memberikan sumbangsih besar bagi kemerdekaan Indonesia. Maka menjadi urgent dan sangat pinsip perumusan konsep dan dasar negara harus mampu mengakomodir aspirasi dan dan agenda kekuatan-kekuatan agama dan idiologi.

Sepanjang berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, potensi struktural dan kultural yang ada, gagal dimanfaatkan bangsa Indonesia untuk menjadi negara besar dan memiliki pengaruh strategis dalam pergaulan internasional.

Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, meski di usia muda kemerdekaannya, sempat menjadi pelopor gerakan dan menginspirasi bagi kemerdekaan beberapa negara dunia ketiga melalui Konferensi Asia Afrika di tahun 1955, memperkenalkan Panca Sila sebagai alternatif terhadap dominasi idiologi kapitalisme dan Komunisme di dunia, dan paling fenomenal adalah ketika Indonesia terus melakukan propaganda dan kampanye membangun tata dunia baru (to build the world a new) yang mengedepankan nilai-nilai keadilan, kesetaraan serta masyarakat dunia yang tanpa penghisapan manusia atas manusia dan penghisapan bangsa atas bangsa.

Alih-alih mewujudkan semua itu, faktanya Indonesia malah mengalami degradasi dan terus tenggelam dalam kehancuran nilai baik aspek manusianya maupun sebagai negara bangsa. Seiring tidak berfungsinya penerapan Panca Sila dan gagalnya implementasi UUD 1945 dalam keseharian hidup rakyat. Indonesia perlahan namun pasti menggunakan demokrasi dalam mengelola negara sebagai konsekuensi dari sistem kapitalisme.

Krisis dan dekadensi moral terus menyelimuti perjalanan pemerintahan dalam penyelenggaraan negara. Perebutan kekuasaan baik secara konstitusional maupun non konstitusional mewarnai dinamika politik, ekonomi dan hukum.

Pergantian rezim kekuasaan dari waktu ke waktu, hanya melahirkan kepemimpinan diktator otoritarian atau demokratis yang menjadi sub koordinat dari kepentingan global. kepemimpinan dan eksistensi negara tidak pernah berhasil mewujudkan negara yang merdeka dan berdaulat. Selama keberadaan negara sejauh ini, selama itu pula kekayaan sumber daya alam dieksploitasi dan dinikmati lebih banyak oleh kepentingan asing. Proses kehidupan kenegaraan kita juga tidak lebih dari realitas politik kekuasaan yang mengabaikan nilai-nilai keadilan sosial, penegakan hukum, dan tujuan kesejahteraan umum bagi rakyat.

Panggung demokrasi secara terstruktur, sistematik dan masif telah menjauhkan rakyat dari moralitas dan spiritualitas. Praktek-praktek demokrasi yang sesungguhnya menjadi jejaring sistem kapitalisme dan liberalisasi global, hanya membentuk manusia yang berorientasi kekuasaan dan mencari kepuasan materi semata. Begitupun infiltrasi dan penetrasi Komunisme yang bersama-sama kapitalisme memengaruhi dan mencengkeram dunia.

Keduanya tidak lebih sekedar platform dari kepemilikan modal dan daya jangkau pasar yang bertendensi penguasaan sumber daya alam dan sumber manusia. Termasuk Indonesia yang dulunya sangat gencar menolak dan menentang kedua idiologi tersebut, kini harus menerima kenyataan pahit menjadi korban dari yang pernah digugatnya.

Ke-Indonesia-an kita pada akhirnya harus terombang-ambing dalam kehidupan yang absurd. Sebagai bangsa kita telah kehilangan karakter. Kita dihadapkan pada kenyataan betapa ada yang salah dalam kemanusiaan kita, ada yang keliru dalam kenegaraan dan kebangsaan kita.

Sebagai manusia maupun sebagai bangsa kita telah jauh meninggalkan nilai-nilai. Kita terlalu dalam mengabaikan religiusitas. Karena materialisme kita hanya sebatas masyarakat beragama tanpa kehadiran Tuhan. Sekulerisme hanya menempatkan agama sebagai kosmetik, tidak lebih penting dan lebih tinggi dari idiologi yang berorientasi politik dan ekonomi.

Dalam suasana merayakan Hari Kebangkitan Nasional, sebagai bangsa, semoga kita bisa melakukan refleksi dan evaluasi. Apakah kita mau dan akan bangkit?. Atau kita menikmati kematian panjang dan tak berujung dari Indonesia yang kita cintai?.


Kategori : Opini,
Topik : Bekasi, Politik,
Editor : Sulistyo Adhi

© 2018 Rakyatbekasi.com. PT Jurnal Rakyat Media Grup. | Ketentuan Umum - Tentang Kami - Pedoman Media Siber